Gaya hidup sehat dimulai dari sekolah

Pendidikan di Indonesia sama seperti pendidikan di negara lainnya. Dimulai dari jenjang pra pendidikan formal (Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak) dilanjutkan dengan pendidikan dasar (Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama) dan pendidikan lanjut (Sekolah Menengah Atas, perguruan tinggi). Masa menempuh pendidikan yang panjang itulah yang membentuk sumber daya manusia di Indonesia. Hampir sebagian waktu anak-anak dihabiskan di sekolah seumur hidup mereka. Jam belajar yang sudah setengah hari, ditambah dengan kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lain seperti kemah, field trip, bakti sosial yang diadakan oleh pihak sekolah, dilalui oleh anak-anak. Maka tidak mengherankan jika sekolah, selain orangtua sebagai lingkup lingkungan terkecil, menjadi penentu pembentukan pengetahuan, karakter, dan kemampuan anak-anak Indonesia.

Masa pra pendidikan formal dan masa pendidikan dasar menjadi periode emas untuk membentuk dan menanamkan banyak hal baik pada anak-anak sehingga hal baik tersebut bisa menjadi kebiasaan ketika anak-anak tumbuh semakin dewasa (long lasting behavior). Seorang anak yang biasa dimotivasi untuk mendapatkan nilai atau peringkat terbaik dari masa pendidikan dasar akan lebih mudah menyesuaikan diri berkompetisi ketika masa pendidikan lanjut. Seorang anak yang diarahkan sesuai bakat dan minatnya sedari pendidikan dasar akan lebih mudah mengembangkan potensinya ketika mereka memasuki masa pendidikan lanjut. Demikian juga dengan hal-hal lain yang ditanam sedari mereka kecil akan tertanam, bertumbuh, dan bertahan menjadi sebuah gaya hidup seiring dengan pertumbuhan usia mereka.

Sekolah, sebagai instansi yang memiliki tanggung jawab moral mencerdaskan anak bangsa, berorientasi lebih banyak pada kemampuan akademis seperti membaca, menulis, dan berhitung. Pelajaran tentang sains dan ilmu sosial sudah tentu menjadi makanan sehari-hari siswa dan guru. Namun, jika diperhatikan lebih lanjut, kebutuhan siswa tidak hanya bicara tentang baca, tulis, hitung. Juga tidak hanya tentang ilmu sains atau sosial saja. Pengetahuan formal memang penting, namun pengetahuan tentang kesehatanpun penting untuk dimengerti oleh siswa sedari mereka ada di tahapan pra pendidikan formal dan pendidikan dasar.

Kebutuhan akan pengetahuan kesehatan seperti apa? Tentu saja yang jarang disampaikan oleh orangtua. Mengapa orangtua tidak menyampaikan pengetahuan kesehatan kepada nak mereka? Bisa jadi karena ketidaktahuan orangtua juga. Contoh pengetahuan kesehatan yang perlu disampaikan kepada siswa sedari dini adalah pengetahuan tentang cara mencuci tangan yang benar, pengetahuan tentang cara menggosok gigi dan menyimpan sikat gigi yang benar setelah digunakan, pengetahuan tentang pentingnya memeriksakan gigi setiap 6 bulan sekali, pengetahuan tentang makanan bergizi, pengetahuan tentang lingkungan yang sehat, pengetahuan tentang bahaya rokok, pengetahuan tentang bahaya jajan sembarangan, bahkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dini bagi siswa kelas 6 SD yang beranjak remaja (akil balik). Sekalipun nampaknya sederhana, tapi kenyataannya tidak banyak orangtua yang mengerjakan perannya dalam memberikan pengetahuan-pengetahuan kesehatan tersebut kepada anaknya. Kalaupun ada yang menyampaikan, bisa jadi apa yang disampaikan masih bersifat sangat dangkal dan sebatas apa yang mereka tahu sebagai orang awam.

Mengapa ini penting disampaikan sedari masa pendidikan dasar? Karena pengetahuan tersebut akan lebih mudah diterima oleh anak-anak dan lebih lama tersimpan dalam memori mereka sehingga ketika mereka tumbuh semakin besar, mereka akan punya gaya hidup yang sehat seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, kebiasaan menggosok gigi, kebiasaan tidak jajan sembarangan, kebiasaan tidak merokok, dan sudah lebih siap menghadapi masa pubertas. Kebiasaan yang terbentuk sejak kecil akan membuat seseorang memiliki gaya hidup yang lebih sehat seterusnya. Input yang mereka terima akan lebih mudah merespon hal-hal positif tentang hidup sehat.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menyampaikan pengetahuan kesehatan pada siswa-siswa ini? Hal tersebut tentu saja bisa ditemukan solusinya. Masing-masing sekolah tentu punya kurikulum. Pada mata pelajaran olahraga dapat disisipkan materi tentang pengetahuan kesehatan, dimana guru dapat menjelaskan materi-materi yang masih berhubungan dengan kebugaran, misalnya tentang makanan bergizi atau tentang 4 sehat 5 sempurna. Cara lain yang bisa diupayakan adalah dengan memaksimalkan peran dokter kecil di Sekolah Dasar. Dokter kecil dapat dilatih untuk menjadi duta menyikat gigi yang tugasnya adalah menyosialisasikan dan memperagakan cara menyikat gigi yang benar. Sekolah dapat mengadakan hari menyikat gigi setiap pekan, misalnya hari Jumat sebelum masuk kelas. Tentu hal ini harus didukung dengan fasilitas air bersih yang dimiliki oleh sekolah. Kemudian untuk materi-materi yang perlu disampaikan secara klasikal, sekolah dapat menyiasati dengan menggunakan jam pelajaran pada hari yang pendek, misalnya hari Sabtu. Satu jam pelajaran terakhir di hari Sabtu dapat digunakan untuk memberikan penyuluhan tentang materi-materi pengetahuan kesehatan. Jika dibutuhkan tenaga ahli, tinggal menghubungi pihak puskesmas setempat karena bagian inipun menjadi tanggung jawab puskesmas dalam upaya promotif dan preventif.

Kesimpulannya adalah, semakin dini pengetahuan tentang kesehatan itu ditanamkan pada anak-anak, semakin mudah untuk mereka memiliki gaya hidup sehat seterusnya. Ini bukan hanya tanggung jawab orangtua tapi sekolahpun dapat berperan sangat efektif untuk mengajarkan pengetahuan kesehatan kepada siswa. Pemerintah, terutama dinas kesehatan tentu tidak mampu meng-cover semua siswa untuk memiliki gaya hidup sehat sedari dini tapi sekolah dapat menjadi cara yang sangat efektif. Akhir kata, upaya promotif-preventif di kalangan siswa membutuhkan peran yang besar dari pihak sekolah. Maka hendaknya tidak hanya pengetahuan sains, sosial, baca, tulis, atau hitung saja yang diberikan, tapi juga pengetahuan kesehatan yang dapat membentuk siswa memiliki gaya hidup sehat sedari dini. Gaya hidup yang sehat diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia jadi semakin baik. Salam sehat!

reff: http://edukasi.kompasiana.com

Ditulis dalam Artikel. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: